|
Yayasan Yudisthira
Swarga
Bali kecantikan alami dan keunikannya telah mengundang kedatangan wisatawan dari berbagai dunia. Namun di tengah-tengah keindahan itu, kita bisa lihat sejumlah besar anjing jalanan berkeliaran di mana-mana. Mereka berpenyakit kulit, kelaparan dan kadang-kadang membahayakan. Mereka menghidupi dirinya sendiri dan berkeliaran dengan bebas di jalanan dan pantai, di sekitar restorant dan di daerah wisata. Jumlahnya yang banyak dan kondisi kehidupan yang sangat jelek menyebabkan lingkungan yang tidak aman dan tidak menyenangkan bagi setiap orang. Klinik Hewan PSKH UNUD, tercatat pernah memperhatikan anjing-anjing jalanan sebelum yayasan ada dengan upaya melakukan kontrol populasi, a) bekerja sama dengan Desa Batu Bulan, Ds. Jimbaran dengan memanfaatkan dana dari Lembaga Pengabdian Masyarakat, UNUD. Ini tidak bisa dilanjutkan karena kesulitan dana, b) Kastrasi masal. Sebagian besar anjing tersebut menderita penyakit kulit, cacingan dan luka yang terinfeksi. Banyak darinya di rubung oleh ulat, menderita kelainan kulit, mendapat gangguan cacing dan parasit lainya. Luka yang tidak diobati dan kecelakaan sering kali menyebabkan putusnya anggota gerak. Sebaliknya, anjing yang dipelihara dengan penuh kasih sayang dan mendapat perawatan yang sepatutnya adalah bersih dari penyakit, sangat lincah dan ceria, serta ikut memberikan sumbangan terhadap keindahan pulau Bali.
Kondisi yang menyedihkan dari anjing tersebut bertolak belakang dengan kesan positif dari Bali sebagai tujuan wisata yang eksotik. Yayasan Yudisthira atau Yayasan pengayom anjing-anjing jalanan didirikan untuk mencegah kondisi yang tidak diinginkan itu dengan cara melakukan aktivitas yang semata-mata untuk memperbaiki kondisi anjing jalanan dan mengurangi jumlah anjing jalanan tersebut. Kami mengajak anda untuk menelusuri ke website kami, dan mempelajari tentang kegiatan kerja yayasan. Silahkan menghubungi kami jika ada pertanyaan atau membutuhkan pertolongan. Cerita tentang Yudisthira Yudisthira adalah nama dari seorang ksatria yang mempunyai sifat sangat agung. Ketika perang Barata yuda usai, dan menewaskan hampir seluruh keluarga Kurawa dan Pandawa yang bertikai, tinggallah Yudisthira. Dalam perjalananya menuju surga bersama kelima saudaranya Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa hanya Yudisthira dan anjingnya yang berhasil mencapai surga (Moksa) dimana orang-orang disana menyambutnya dengan baik. Untuk masuk ke surga mereka memberikan tandu kepada Yudisthira untuk di duduki, tetapi Yudisthira meminta mereka supaya anjingnya ikut pula di tandu. Jelas saja mereka sangat marah atas permintaan Yudisthira ini karena anjing tidak layak untuk di tandu karena dia bukanlah manusia. Yudisthira tetap tidak mau di tandu, jika anjingnya tidak ikut serta. Pada saat itu anjing yang selalu bersama Yudisthira menjelma sebagai seorang dewa, dan kemudian dia menjelaskan kepada semua mengapa dia menyamar sebagai anjing. Dewa tersebut menjelaskan bahwa dia menguji kesetiaan yudisthira terhadap binatang. Akhirnya Yudisthira masuk ke surga. Karakter dari yudisthira ini adalah sebagai symbol kebuadayaan pendududuk Bali yang mempunyai sifat agung, dan karakter seperti ini sama pula di anut oleh orang asing dimana mereka juga mempunyai kebudayaan dan percaya dengan adanya suatu kebaikan tanpa meminta pamrih.
|